cerpen cinta ketika cinta harus rela

Sesampainya di rumah aku langsung cepet – cepet membuka email dan bersiap – siap untuk berchat ria. Namun sepertinya Vandi belum juga muncul…,
aku pun beralih tempat dari kamar ke teras rumah depan
“Dari Pada bengong nunggu Vandi online, mending sekalian aku bikin – bikin puisi ach” gumamku,pada saat bersamaan ku lihat Kak Aldi sedang memarkirkan motor dan beranjak masuk dengan wajah kusut,kak aldi tak menyapaku begitu juga aku yang tak ada niat untuk menyapanya, karena aku masih marah dengannya soal kemaren.

 Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Rela ~ 05

Hari ini adalah hari minggu, membuat semua orang bermales – malesan di tempat tidur, namun aku lebih memilih berjalan – jalan santai di sekitaran taman yang letaknya tak jauh dari rumah. Setelah merasa lelah, aku pun beristirahat di bawahpohon beringin mencoba menikmati udara sejuk pagi ini,
“ Akhir – Akhir Ini, aku serasa tak bisa bernapas lega, akhir –akhir ini hari – hariku penuh dengan emosi.” Gumamku,
Ku tarik napasku dan ku hembuskan dengan pelan. Pikiranku kini pun sedikit tenang.
“ Hai, udah agak rileks?” Terdengar suara yang ku kenal, aku pun dengan cepat menoleh ternyata memang suara benar itu suara Kak Andre. Meski dia masih dengan sikapnya yang selalu mengagetkanku,namun kini aku sudah tak shok lagi,karena sudah terbiasa mendengarnya. Aku hanya mengangguk saja.
“ Kakak sering ke sini?” tanyaku memulai pembicaraan setelah lama kami terdiam.
“Iya, aku sering ke sini untuk sekedar menenangkan pikiran” jawabnya singkat masih memandang langit yang sedikit mendung.
“ Kenapa kakak,nggak sama Anya?” tanyaku lagi. Yang di Tanya malah dim saja, membuat ku perpikir apakah hubungan Anya sama Kak Andre juga seperti hubungan ku dengan Kak Aldi.
“Hubunganku sama Anya,cukup dekat ko’ Cuma kita jarang bareng aja” kata Kak Andre sambil memandangi, dan aku pun memandangnya tak percaya dia tau apa yang aku pikirkan.
“ Kalau hubunganmu dengan Aldi gimana” Tanya kak Andre yang masih memandangku.
“ Kalau aku sama kak aldi,bias dibilang hubungan kita kurang akrab,aku juga tak tau kenapa, rasanya masih sedikit canggung menganggapnya kakak” jawabku sambil memandang suasana sekitar.
Kakak Andre menghela napasnya. “ Mungkin karena kalian tak pernah berhubungan sama sekali dan waktu yang sudah dijalani kalian bersama belum cukup untuk mencairkan rasa canggung itu.” Kata Andre.
Aku menatapnya yang kini sedang menatap langit biru diatas kami.
“Atau mungkin kau belum bisa menerimanya sebagai kakakmu. Menurutku masalah waktu tak begitu penting, asal kau bisa menerima seseorang di sekelilingmu kau pasti bisa bahagia hidup bersama mereka. Kuncinya hanya ada di hatimu, mau menerima dengan cepat atau kau tak bisa menerimanya sama sekali. Cobalah kau terima segala situasi dan kondisimu saat ini pasti semua akan baik – baik saja. ” Lanjutnya yang membuat aku terpana.
“ Oiya aku boleh bertanya sesuatu padamu?” Tanya kak andre yang membuatku tersadar dari rasa terpanaku.
“Boleh, mau Tanya apa kak?” jawabku dengan nada bertanya,
“Apa alasan kamu tak mau memberitahukan pada temen sekolah kalau kamu adik Aldi, bukankah harusnya kamu seneng punya kakak yang banyak penggemarnya?” Kata Kak Andre. Aku menggelengkan kepala
“ Menurutku tidak begitu menyenangkan, banyak orang yang ingin dekat dengan Kak Aldi, jusrtu itu yang membuatku takut, aku nda mau dideketin oleh mereka karena cuma ingin deket sama Kak Aldi, aku tak mau mereka menerimaku sebagai temen cuma karena punya kakak yang ngetop. Bukannya aku tak mau menerima Kak Aldi sebagai kakakku, namun aku Cuma ingin menjadi diriku sendiri dan di terima sebagai Tari, bukan sebagai adik dari Kak Aldi” jawabku panjang lebar.
Kak Andre hanya tersenyum mendengarnya. Dan kami pun memandang Langit biru bersama.

Cerpen Cinta Ketika Cinta Harus Rela ~ 05

Ketika perjalanan pulang, aku memikirkan semua perkataan Kak Andre,
“Kak Andre benar, aku harus bisa menerima semua keadaan ini, aku akan meminta maaf kepada Kak Aldi, Vandi juga menyuruhku untuk itu,ibu juga. Ya pokoknya aku harus minta maaf sama kak aldi titik nda pake koma.” Kataku memantapkan langkahku.
Ku lihat kak aldi,s edang tiduran santai di teras belakang. Dengan hati – hati aku mendekatinya.
“Kak, aku mau bicara nih……”Kataku setelah jarak kami dekat.
Kak Aldi hanya menoleh saja.
“ Aku mau minta maaf sama kakak soal kemaren. Dan juga atas sikapku sama kakak selama ini, karena aku belum siap menerima kakak sebagai kakakku, tapi aku janji aku akan merubah sikapku, aku harap kakak juga bisa merubah sikap kakak terhadapku, kakak jangan selalu cuek denganku dan bisa menerimaku sebagai adik kakak” Kataku panjang lebar dengan percaya diri dan menghilangkan rasa ke khawatiranku selama ini.
Kak aldi hanya diam saja dan memandangku,lalu dia seperti melepaskan sesuatu dari telinganya,
“Astaga ternyata dia sedang menggunakan heandset berarti dari tadi dia nda ndengerin aku ngomong??” bisikku dalam hati merasa kecewa.
“ Kamu tadi ngomong apa Tar, gue nggak denger.” Katanya sambil memandangku.
“ Nggak jadi, kakak lanjutin aja ndengerin musiknya” kataku sebel kemudian berlalu meninggalkannya.
“ Huuh kakakku bener – bener menyebalkan bird, dia cuek banget sama aku kayak nda nganggep aku sebagai adiknya sama sekali” Kataku saat berchatingan dengan Vandi, ku ceritakan semua keluh kesahku terhadapnya, meski terkadang dia tak bisa memberi solusi namun dia cukup bisa membuatku tenang.
Hari ini aku berniat naik bis, dan tak menebeng papa. Ketika sedang asyik membaca sambil menunggu bus yang datang. Tiba – Tiba terdengar suara klakson motor, ku mendongak ternyata Kak Aldi yang kini menghampiriku.
“ Ayo,kita berangkat bareng!” ajaknya sambil menyerahkan helm kepadaku. Aku pun mengangguk tak percaya lalu mengikuti ajakannya. Kami pun pergi ke sekolah bersama.
“ Mulai sekarang loe pergi dan pulang sekolah bareng gue ya.” Kata Kak Aldi memulai pembicaraan.
“ Lah bukannya dulu kakak yang menolak bareng ma aku ya??” jawabku heran.
“ Itukan dulu, tapi sekarang udah nggak ko’. Maafin kakak ya kalau kakak jutek ma kamu” Kata kak aldi sambil tersenyum. Aku pun ikut senym
“ Hem kurasa Kak Aldi sekarang udah berubah” kataku dalam hati.
“Hai, kita boleh duduk disini” terdengar suara yang mengagetkanku saat istirahat di taman sekolah,ternyata suara anya.
“ Tentu saja, ayo duduk ” Kataku senang,ketika sekian lama nda bareng bersama mereka.
“Gue, kesini mau minta maaf Karena udah njauhin loe” Kata anya,
“ Kita juga” Kata Tia dan tiwi bersamaan.
“Gue kaget dan merasa dibohongi sama loe, karena loe nggak pernah cerita ke kita kalau loe adik dari Kak Aldi, tapi gue yakin loe nggak bermaksud gitu kan??”Lanjut Anya,
“ Kita juga” Kata Tia dan tiwi yang sekali lagi berbarengan,aku hanya terdiam mendengarnya.
“ Loe mau jadi temen kita lagi nggak” Kata anya sambil menjulurkan tangannya,dengan penuh semangat aku menjabat tangannya. Dan kami pun tersenyum bersama.
“Eh kalian ko’ nda bilang kita juga” kataku menunjuk Tia dan Tiwi,
“Hehehehe timmingnya nggak pas sih” Kata Tia dan Tiwi yang bersamaan, membuat aku dan Anya ketawa
“Akhirnya temen – temenku kembali, mereka kembali bersama dan menemani hari – hariku, terkadang manusia memang punya salah kepada siapapun itu, termasuk membuat sahabat kita marah, namun yang namanya sahabat pasti akan kembali kepada kita dan memaafkan segala kesalahan kita tanpa ada dendam sama sekali” Bisikku dalam hati….

 

Biodata penulis :

Judul cerpen : Ketika Cinta Harus Rela
Nama : Novi
Facebook :DevilOpi DhiM-dHim

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s