PENANTIAN CINTAKU

Penantian kata itu yang selalu
terucap di bibir ku,hanya berharap
dan menanti kau datang dan
mengambil cinta dariku. Awal bulan
February pun telah berlalu hampir 3
bulan lebih aku menantinya
berharap apa yang aku nanti bisa ku
dapatkan kembali. Namun apa
semua nya di luar dugaan ku,tak
kusangka penantian ku selama 3
bulan ini akan menjadi sia-sia hanya
karna kau telah mempunyai cinta
yang lain.
Kecewa,terluka yang aku rasakan
saat itu. Hamparan penantian
kosong yang kini masih tertinggal di
kehidupan ku, tak tau apa yang
harus aku lakukan lagi semua nya
terasa berat aku jalani.
Hari-Hari ku yang dulu ceria kini
menjadi suram aku hanya bisa
terdiam membisu memikirkan apa
yang telah terjadi padaku, seakan-
akan aku tak percaya dengan semua
ini, sesekali aku berfikir mungkin ini
hanya mimpi bukan kenyataan.
Namun setelah aku terbangun
ternyata semua nya bukan mimpi,
kini kau telah bahagia dengan cinta
yang lain.
Saat itu aku yang duduk di kelas
XII di sebuah sekolah swasta di
daerah plered-purwakarta.
Mengalami defresi berat karna
semua di luar dugaanku.
Kehadiaran ku di sekolahan pun
menurun, aku yang tadinya tak
pernah membolos kini sering
membolos hanya karna memikir kan
cinta dan wanita saja. Surat dari
kepala sekolah dan guru BP pun
berdatangan.
“Asslamualikum.wr.wb.”
Kepada orang tua murid saya
selaku wali kelasnya Rian Sulaeman
Farhi meminta ibu/bapak untuk
hadir kesekolah membicarakan
kehadiaran rian selama 1 bulan ini.
Begitu lah isi surat panggilan untuk
orang tua ku dari sekolahan ku
yang sempat aku baca. Sesampainya
surat itu kepada kedua orang tua
ku mereka marah besar kepada
ku,kecewa dangan apa yang telah
aku lakukan sehingga surat
panggilan dating dari sekolah.
Aku yang sedang duduk di kursi
saat itu sambil mengotak-atik Hp ku
tiba-tiba . . . .
“GUPRAKKKKKKKKKK” . . . .
Sebuah suara di atas meja yang
ada di depan ku, saat aku lihat
ternyata tangan mama yang sedang
memukul meja dengan sebuah surat
di tangan. Kaget saat aku melihat
nya.
“ini yang di namakan
sekolah . . . . . .?” Terdengar jelas di
telinga ku suara kemarahan dari
mama,
aku hanya bisa terdiam saat itu
menyesali apa yang telah aku
lakukan. Mengecewakan sosok
seorang mama.
“maafin aku mama . . .” Ucapaku
dalam hati kecil ini,
Terdengar mama menangis seperti
tak percaya dengan apa telah aku
lakukan. Hanya gara-gara sebuah
cinta dan wanita aku harus melihat
mama menetes kan air mata. Saat
itu aku mencoba untuk melupakan
apa yang 3 bulan lalu terjadi, kini
mama udah kembali lagi ceria dan
mau memaafkan kesalahan ku.
“aku janji sama mama aku gak akan
ngecewain lagi mama dan buat mama
meneteskan air mata untuk yang
kedua kali nya” Kata itu yang aku
ucapkan kepada mama.
“makasih nak, belajar lah yang rajin
mama gak mau liat kamu susah.
Karena kehidupan sesungguhnya
akan kamu rasakan nanti setelah
kamu berkeluarga.” Jawab mama
yang penuh senyum dan sambil
mengelus pundak ku, seperti mama
gak mau melihatku mempunyai
beban.
* * *
Mentari pagi pun mulai terbit
seperti biasa mama yang selalu
bangunin aku buat sekolah,
sesampainya aku di sekolah dan
duduk di kelas hanya lamunan yang
aku perlihat kan kepada temen-
temen dan semua orang.
Terlalu pahit penantian ku
terhadap mu,hamparan luka yang
kini aku terima walau pun aku udah
janji sama mama untuk melupakan
itu semua namun sulit bagiku,
bayangan nya selalu menghantui
hidup ku semakin aku mencoba
melupakan nya semakin sakit hati
ini. Seperti tak ada cara lain hanya
diri mu yang mampu mengobatinya.
Sesampai nya aku di rumah lamun
lagi yang aku perlihatkan, sesekali
mama memperhatikanku.
“anak ku lagi terluka dan patah
hati” Goda mama kepada ku.
“apaan sich mama ini . . .” Jawab ku
sambil sedikit tersenyum karna gak
mau melihat mama ikut sedih.
“udah gak usah bohong sama mama,
mama juga tau kok. Karena mama
juga kan pernah muda kaya kamu,
jadi pernah ngalamin.“ Jawab mama
sambil menghibur ku agar aku gak
terus-terusan terpuruk dalam
kesedihan.
“bener gak ada apa-apa kok
mama , , , , !!!!! ya, iya atuh mama
pernah muda masa mama tua dulu
sich?” Balas ku menggoda mama.
Obrolan pun berlanjut tak terasa
sore pun telah tiba,saking asyik nya
ngobrol ama mama sampai-sampai
aku lupa tadi mau makan siang.
Canda tawa yang tadi bersama
mama hilang sudah saat aku
kembali ingat sosok bayangan nya
lagi, entah kenapa bayangan nya
terus menghantui, rasa rindu
kepadanya pun semakin menjadi
walau aku tau dia kini bahagia
bersama orang lain. Hanya penantian
dan harapan yang masih aku simpan
untuk nya walau aku sendiri tak
tau sampai kapan penantian ini akan
berakhir….

 

by: Rian sulaeman farhi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s