PERJUANGAN IBU MENGANDUNG DENGAN LUAR BIASA

Perjuangan Ibu Mengandung Dengan Luar Biasa – Dalam mengarungi rumah tangga, kehadiran seorang anak sebagai penerus keturunan keluarga, sangat didambakan. Kadang ada yang cepat diberi keturunan, ada pula yang harus menunggu lama baru mendapatkan keturunan. Ada yang sulit atau tidak bisa mendapatkan keturunan, tetapi ada pula yang dengan tega membuang bahkan menghilangkan nyawa keturunannya sendiri.

Seorang istri akan merasa  senang dan bisa membahagiakan sang suami tercinta jika ia bisa memberikan keturunan. Bahkan ada ada sebuah kebanggaan dari seorang perempuan atau istri jika bisa melahirkan bayinya dengan normal, sehat, tanpa cacat sedikit pun. Sebuah proses kelahiran yang berlangsung normal, tanpa operasi caesar, pasti akan membekas dihati seorang ibu, bagaimana rasa berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan anaknya. Tidak hanya perjuangan saat melahirkan, bahkan selama mengandung lebih kurang 9 bulan lamanya, seorang ibu juga berjuang menjaga bayi dikandungannya.

Sebuah kisah berikut mungkin bisa menjadi inspirasi dan renungan tentang bagaimana beratnya perjuangan seorang ibu yang rela bertaruh nyawa demi menjaga dan mencintai bayi dikandunganya. Sebuah keinginan dan motivasi yang kuat agar bisa merasakan “pertarungan” hidup dan mati sebagai seorang ibu yang ingin melahirkan anaknya dengan normal. Dibalik proses  yang berat, pasti ada Dzat Yang Maha Kuasa yang memberikan pertolongan hidup. Jika bukan karena kuasa Allah, takkan pernah terjadi sebuah kelahiran yang menakjubkan ini. Selain faktor Allah, tentu saja ada sang ibu yang teramat luar biasa…

Perjuangan Ibu Mengandung Dengan Luar Biasa [ibuhamiltips]

Sudah hampir 3 tahun pasangan suami istri ini membina rumah tangga. Selama itu pula mereka menunggu hadirnya tangisan suara bayi dalam kehidupan rumah tangganya. Saat yang dinanti pun tiba. Pekan pertama setelah mengetahui bahwa dirinya positif hamil, Syifa mengaku kaget bercampur haru. Perasaan yang luar biasa menghinggapi seisi hidupnya, sepanjang hari-harinya setelah itu. Betapa tidak, sekian tahun lamanya ia menunggu kehamilan, ia teramat merindukan kehadiran buah hati penyejuk jiwa di rumah tangganya. Dan kenyataannya, Allah menanamkan bentuk amanah dalam rahimnya. Syifa pun tersenyum gembira.

Namun kebahagiaan Syifa hanya berlangsung sesaat, tak lebih dari dua pekan ia menikmati hari-hari indahnya, ia jatuh sakit. Dokter yang merawatnya tak bisa mendiagnosa sakit yang diderita Syifa. Makin lama, sakitnya bertambah parah, sementara janin yang berada dalam kandungannya pun ikut berpengaruh. Satu bulan kemudian, Syifa tak kunjung sembuh, bahkan kondisinya bertambah parah. Dokter mengatakan, pasiennya belum kuat untuk hamil sehingga ada kemungkinan jalan untuk kesembuhan dengan cara menggugurkan kandungannya.

Syifa yang mendengar rencana dokter, langsung berkata “tidak”. Ia rela melakukan apa pun untuk kelahiran bayinya, meski pun harus mati. “bukankah seorang ibu yang meninggal saat melahirkan sama dengan mati syahid?” ujarnya menguatkan tekad.

Suaminya dan dokter pun sepakat menyerah dengan keputusan Syifa. Walau mereka sudah membujuknya dengan kalimat, “kalau kamu sehat, kamu bisa hamil lagi nanti dan melahirkan anak sebanyak kamu mau”. Namun Syifa tak bergeming. Janin itu pun tetap bersemayam di rahimnya.

Waktu terus berjalan, memasuki bulan ketiga, Syifa mengalami penurunan stamina. Keluarga sudah menangis melihat kondisinya, tak sanggup melihat penderitaan Syifa. Tak lama kemudian, dokter menyatakan Syifa dalam keadaan kritis. Tidak ada jalan lain, janin yang sudah berusia hampir empat bulan pun harus segera dikeluarkan demi menyelamatkan sang ibu.

Dalam keadaan kritis, rupanya Syifa tahu rencana dokter dan keluarganya. Ia pun bersikeras mempertahankan bayinya. “Ia berhak hidup, biar saya saja yang mati untuknya”. Syifa pun memohon kepada suaminya untuk mengabulkan keinginannya ini. “Mungkin saja ini permintaan terakhir saya Mas.., biarkan saya meninggal dengan tenang setelah melahirkan nanti. Yang penting saya bisa melihatnya terlahir ke dunia,” luluhlah sang suami. Pengguguran kandungan pun batal.

Bulan berikutnya, kesehatan Syifa tak berangsur pulih. Di bulan ke enam kehamilannya, ia drop, dan dinyatakan koma. Satu rumah dan dua mobil sudah habis terjual untuk biaya rumah sakit Syifa selama beberapa bulan. Saat itu, suami dan keluarganya sudah nyaris menyerah. Dokter dan pihak rumah sakit sudah menyodorkan surat untuk ditandatangani suami Syifa, berupa surat izin untuk menggugurkan kandungan. Seluruh keluarga sudah setuju, bahkan mereka sudah ikhlas jika Allah berkehendak terbaik untuk Syifa dan bayinya.

Seorang ibu memang selalu luar biasa. Tidak ada yang mampu menandingi cintanya, dan kekuatan cinta itu yang membuatnya bertahan selama enam bulan masa kehamilannya. Maha Suci Allah yang berkenan menunjukkan kekuatan cinta sang ibu melalui Syifa, menjelang sang suami menandatangani surat izin pengguguran, Syifa mengigau dalam komanya. “Jangan…, jangan gugurkan bayi saya. Ia akan hidup, begitu juga saya” Kemudian ia tertidur lagi dalam komanya.

Air mata meleleh dari pelupuk mata sang suami. Ia sangat menyayangi isteri dan calon anaknya. Surat pun urung ditandatanganinya, karena jauh dari rasa iba melihat penderitaan isterinya, ia pun sangat memimpikan bisa segera menggendong buah hatinya. Boleh jadi, kekuatan cinta dari suami dan isteri ini kepada calon anaknya yang membuat Allah tersenyum.

Allah Maha Kuasa. Ia berkehendak tetap membuat hidup bayi dalam kandungan Syifa meski sang ibu dalam keadaan koma. Bahkan, setelah hampir tiga bulan, Syifa tersadar dari komanya. Hanya beberapa hari menjelang waktu melahirkan yang dijadwalkan. Ada kekuatan luar biasa yang bermain dalam kisah cinta seorang ibu bernama Syifa. Kekuatan Allah dan kekuatan cinta sang ibu.

Bayi itu pun terlahir dengan selamat dan normal, tanpa cacat, tanpa operasi caesar. “Mungkin ini bayi termahal yang pernah dilahirkan. Terima kasih Yaa Allah.., saya tak pernah membayangkan bisa melewati semua ini,” ujar Syifa menutup kisahnya….

By : in Ibu&Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s