Perjuangan Ayah Demi Kehsembuhan Bua Hati dari Penyakit Hidrosefalus

1362668003961767049

Jakarta-Bertempat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Bayi perempuan dari pasangan Suyanto (40) dan Yungsih (42) yang bernama Kasih Cinta Nusawantara berusia 7 bulan itu tampak montok dan putih. Namun ada kelainan dari tubuh si bayi, kepalanya lebih besar dari ukuran normal kepala bayi, seukuran kepala orang dewasa.

Kedatangan seorang buah hati tentunya merupakan anugerah yang tak terhingga bagi setiap ibu di dunia. Tentunya tidak ada seorang ibu yang menginginkan hal yang jelek terjadi pada bayinya. Menurut Yungsih selama proses kehamilan, memang dokter sudah bilang akan ada keanehan yang disebut penyakit Hidrosefalus. Hingga proses persalinan pada tanggal 16 Juli 2012 berjalan dengan normal melalui operasi Ceaser.

“Selama hamil,memang dokter sudah mengatakan dalam kandungan ada permasalahan karena kekurangan zat protein. Sehingga waktu kelahiran dimungkinkan bayi akan menderita penyakit Hidrosefalus,” pengakuan Yungsih dengan sedih.

Suami menambahkan, saat lahir anak keempatnya yang lahir dengan ceaser itu tampak normal seperti bayi lainnya dengan berat badan sekitar 2,8 Kg. kelainan baru tampak saat bayi berumur 40 hari, bayi sering nangis dan rewel malam hari. Kepalanya pun makin mulai membesar. Penyakit Hidroselafus sendiri ialah ketidakseimbangan antara produksi, distribusi, dan penyerapan cairan otak sehingga menyebabkan penumpukan cairan yang otak berlebih di kepala.

Suyanto melanjutkan ceritanya, perawatan hanya dilakukan selama 10 hari di RSCM.Karena kekurangan biaya serta saat itu tidak mempunyai Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) atau Kartu Jakarta Sehat (KJS). Maka dengan terpaksa saya menandatangani surat paksa keluar rumah sakit dan memilih rawat jalan.

“Waktu itu saya binggung, biaya pengobatan mencapai sekitar Rp 10 juta. Biaya itu,didapat dari hutang dan sumbangan keluarga sana-sini. Bayang saja, pekerjaan yang saya lakukan double job yaitu tukang ojek dan buruk seperti saya berapa sih penghasilannya ? Dalam seharian saya Cuma bisa menghasilkan uang sekitar Rp 75 ribu,” kata Suyanto dengan raut wajah cemas.

“Padahal dokter ahli saraf menanggai bayi cinta mengatakan saat itu butuh segera tindakan cepat Operasi. Karena penderita penyakit Hidrosefalus apabila dibiarkan berdampak fatal yaitu kematian. Karena cairan bertambah banyak, sehingga akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital,” tambahan katanya.

Namun selama 6 bulan itu. Suyanto tidak ingin menjadi seorang ayah melantarkan anaknya. Dia tidak ingin menggantung kehidupan anak bungsu itu dengan nasib miskin. Maka segala cara dilakukan. Ia mulai dari mencari informasi mengenai yayasan-yayasan sampai berusaha supaya mendapatkan Kartu Jakarta Sehat.

Diomelin, dimarahi, dibentak, serta dikecewakan sudah biasa bagi Suyanto. Semua dilakukan dengan sabar dan iklas demi kesembuhan buah hatinya dari penyakit Hidrosefalus.

“Awalnya berusaha mencari informasi kesana-sini untuk yayasan dapat membantu Cinta soal biaya rumah sakit. Pernah ada sih, yayasan dari kementrian sosial yang janji bantu. Tetapi setelah semua data masuk sampai sekarang tidak ada kabarnya lagi,” ujarnya dengan kecewa.

Kartu Jakarta Sehat (KJS) ini adalah bagian dari program Gubernur Jokowi untuk mengansuransikan seluruh penduduk Jakarta. Secara teori mendapatkan KJS ini memang kelihatan mudah hanya dengan membawa KTP dan KK ke puskemas-puskemas sudah ditunjuk oleh Pemda DKI Jakarta. Namun pada kenyatannya, begitu sulit mendapatkan Kartu Jakarta Sehat ini.

“lalu saran dari tetangga, saya menempuh membuat Kartu Jakarta Sehat. Mulai dari RT, RW, kelurahan, kecamatan, dan dinas sosial kesehatan Jakarta Timur. Proses itu tidak mudah mas, ribet, informasi sering kali sebagian-sebagian sehingga harus bolak balik. Pastinya, biaya muter bolak-balik itu juga butuh duit yang cukup besar. Karena satu surat tidak bisa selesai dalam satu hari,” cetusnya.

“Setelah mempunyai Surat KJS bukan rintangan berhenti begitu saja. Saya pernah dimarahi oleh pihak pelayanan RSCM bilang kenapa bayi baru dibawa lagi setelah kepalanya diameter 5,8 Meter. Padahal waktu dulu itu karena dipaksa keluar disebabkan tidak punya biaya ataujaminan kesehatan.

Sekarang cuek saja jika pelayanan dinas sosial RSCM cemberut lihat saya mengurusi biaya gratis rumah sakit. Semua itu saya lakukan demi kesembuhan Cinta,” kata Suyanto sambil mencucurkan air mata.

Meskipun Sekarang Balitanya sudah mendapatkan pelayanan rawat inap RSCM di lantai 5 ruangan 512 E. Serta sudah mendapatkan Operasi Hidrosefalus pada hari Jumat tanggal 22 Febuari 2013 kemarin. Ternyata Pemulihan Cinta memerlukan waktu yang panjang.

“Setelah pasca Operasi hidrosefalus, saya kira kepala cinta akan langsung mengecil. Ternyata tidak secepat itu. Katanya dokter, membutuhkan proses pemulihan maskimal minimal sampai umur 10 tahun atau 12 tahun. Jadi masing ada tahap pengobatan dan operasi berikutnya,” katanya.

Terinsprasi dari kisah nyata perjuangan Orang tua Kasih Cinta Nusawantara yang berjuang dengan sabar dan tidak putus asa. Melalui tulisan ini, berharap dapat menggugah hati para pembaca akan berempati terhadap perjuangan mereka.

(Max Andrew Ohandi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s